Buku Tamu

Kirimkan kritik dan saran untuk blog ini, silahkan kirim email ke kesini : sultankelantan@ymail.com ShoutMix chat widget

Sabtu, 21 November 2009

Malaysia Mengincar Kekayaan Budaya Indonesia

Malaysia dalam kurun waktu terakhir semakin genit. Mulai Reog, Batik, Ambalat, Manohara, penyiksaan TKI dan yang sedang hangat saat ini adalah Pendet. Mungkin perlu dibuatkan film AADM? Ada Apa Dengan Malaysia? Malaysia terus "memancing emosi" Indonesia dengan isu Pendet yang juga diakui sebagai salah satu kekayaan budayanya.

Tidak heran bila para seniman tari di Bali sebagai bidan-bidan tarian klasik Bali semacam Pendet ini langsung angkat protes. Ramai-ramai mereka menyuarakan kekecewaannya pada pemerintah Malaysia yang main caplok karya-karya seni pihak lain seenaknya. Salah siapa? Mungkin Indonesia memang perlu belajar dari Malaysia dan negara-negara lain dalam hal melindungi karya-karya seni budayanya, baik yang sudah merupakan warisan leluhur sejak berabad-abad maupun kreasi-kreasi modern yang kontemporer. Kita baru berteriak-teriak memprotes setelah ada pihak-pihak lain yang mencoba merampasnya dari tangan kita.

Dengan adem ayem berabad-abad kita sudah merasa tenteram dengan memiliki keris, batik, reog, tempe, tahu, tari gambyong, wayang kulit, sebagai warisan budaya adiluhung bangsa Indonesia. Tidak terbetik sedikit pun upaya untuk melindunginya sebagai kekayaan budaya bangsa. Mendaftarkannya ke lembaga paten juga tampaknya tidak perlu, sebab kita terlanjur GR (PD) toh sudah termasyur ke seluruh jagad raya bahwa Indonesia adalah pemilik sahnya?

Kelemahan ini dilirik oleh Malaysia yang cerdik. Saudara serumpun tinggal slogan karena Indonesia senantiasa memaafkan "kenakalan-kenakalan adiknya" Malaysia ini, mereka sangat sadari hal ini. Apalagi jaman Soekarno dengan "Ganjang Malaysia"nya sudah lewat dan tidak ada lagi semangat heroik seperti itu dalam mempertahankan martabat bangsa. Maka secara perlahan tapi sistimatis, Malaysia "memprotoli" kekayaan budaya kita dan diadopsi sebagai miliknya. Kita marah dan protes? Mungkin. Tetapi itu saja tidak cukup. Daftar panjang karya seni dan budaya Indonesia itu harus segera diselamatkan kalau tidak ingin Indonesia suatu saat hanya menjadi penonton dari pesta pora bangsa lain yang menculik kekayaan seni budaya kita.

Tim Penyelamat harus segera terbentuk dan mengambil tindakan cepat dan tegas. Database dari kekayaan ini harus segera tersusun detil dan rapi serta mencatatkannya amat segera di lembaga paten bahkan di level internasional, sehingga bila tiba-tiba saja Jepang misalnya mengklaim sebagai penemu tempe, kita dapat menangkalnya. Atau memang ini sudah terjadi? Menyedihkan.

Kita tidak membutuhkan pidato panjang lebar, tetapi sebuah tindakan nyata yang mampu membendung kebrutalan pihak asing dalam upaya mereka mengikis kekayaan seni dan budaya Indonesia serta menjualnya sebagai paket-paket wisata negara mereka secara tanpa etika.

-----------------------------------------------------------------------------------------------
Wawan Budayawan, Spd
Pemerhati Masalah Sosial dan Budaya